Satwa Liar dan Ancamannya

Satwa Liar dan Ancamannya

Welcome back to my blog. Sorry banget udah lama ga nulis lagi gegara ngurusin beberapa hal yang ga bisa ditingga. So, semoga para pembaca sehat-sehat yaa.. So, blog gue kali ini bakalan ngebahas sesuatu yang berbeda dari biasanya. Apaa tuhh? Yapp, gue bakalan sedikit bercerita tentang satwa liar wabil khusus adalah Gajah Sumatera atau dalam bahasa latinnya adalah Elephas maximus sumateranus. Tema ini sempet gue bahas saat diperkuliahan gue. Oke daripada berlama-lama langsung ajaa ya…

Saat ini, satwa liar menjadi salah satu fokus masyarakat dunia dikarenakan semakin hari populasinya yang semakin menurun. Hal ini tentunya disebabkan oleh banyak faktor, seperti pembukaan lahan baru yang digunakan sebagai pemukiman warga, sebagai wilayah industri, serta perkebunan. Faktor ini dapat menyebabkan munculnya penyakit zoonosis seperti emerging and re-emerging disease yang dapat mengganggu kelangsungan satwa liar maupun kesehatan manusia yang tinggal di sekitar habitat tersebut. Salah satu penyakit yang menjadi ancaman antara lain adalah penyakit helminthiasis yang disebabkan oleh cacing.

Salah satu satwa liar yang berperan penting dalam ekosistem dan berada di tengah-tengah masyarakat adalah gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus). Dimana sekeliling dari habitat gajah Sumatera ini merupakan pemukiman warga yang menyebabkan gajah Sumatera ini sering memasuki wilayah tersebut dikarenakan habitat mereka yang semakin sempit serta menyebabkan penurunan kualitas hutan.  Hal ini yang dapat menyebabkan menjadi ancaman bagi warga sekitar karena gajah Sumatera dapat menjadi reservoir penyakit helmintiasis. Namun masih jarang ditemukan kejadian penyakit zoonosis yang berasal dari gajah Sumatera kemudian menginfeksi manusia.

Gajah sumatera adalah salah satu dari sub spesies gajah Asiadan menurut IUCN RedList merupakan satwa terancam punah (Critically Endangered) yang tercatat dalam daftar merah. Spesies tersebut juga terdaftar dikategori Apendiks I dalam Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES) yaitu jenis spesies yang jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah (CITES, 2012). Upaya untuk menghambat laju kepunahan Gajah Sumatera dapat dengan melakukan kegiatan konservasi di dalam habitat aslinya (konservasi in-situ) atau memelihara populasinya di luar habitat asli (konservasi ex-situ). Sebagai bentuk upaya pelestarian gajah, di Indonesia banyak terdapat lembaga konservasi yang tersebar diberbagai wilayah Indonesia. Permasalahan kesehatan gajah di lembaga konservasi merupakan hal perlu diperhatikan, salah satunya adalah infeksi cacing.

Cacing merupakan parasit yang umum ditemukan pada hewan vertebrata dan dapat menimbulkan permasalahan terhadap kesejahteraan, pengelolaan, dan konservasi populasi satwa liar baik yang hidup di penangkaran maupun alam bebas (Pedersen et al., 2007; Zhang et al., 2008). Hal tersebut menjadi sangat penting untuk diperhatikan pada spesies langka dan endemik karena infeksi cacing berkaitan dengan penurunan populasi (Heard et al., 2013). Beberapa jenis cacing pada gajah adalah Haemonchus contortus, Oesophagostomum columbianum, Strongyloides papillosus, Trichostrongylus colubriformis (Mbaya et al., 2013), Amira pileata (Easwaran et al., 2003), Quilonia magna(Kinsella et al., 2004), Parabronema pecariae (Vicente et al., 2000), dan Murshida falcifera (Matsuo dan Suprahman, 1997). Sebuah penelitian di Guruvayoor, India melaporkan bahwa 17,17% gajah positif terinfeksi cacing Strongylidae dan Amphistoma (Saseendran et al., 2004).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi infeksi cacing adalah host, parasit, dan lingkungan. Faktor host meliputi umur, tingkah laku individu, pakan dan air minum, frekuensi dan jumlah feses setiap harinya, dan status reproduksi. Sementara faktor dari lingkungan itu sendiri meliputi suhu, kelembaban, serta curah hujan (Hinget al., 2013). Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan telur cacing nematoda, antara lain kelembaban udara yang terlalu rendah serta suhu dan pH lingkungan yang terlalu rendah atau tinggi. Bila kondisi lingkungan terganggu, maka perkembangan telur cacing nematoda dapat mengalami kegagalan dalam pembentukan larva stadium I maupun larva stadium II atau larva yang terbentuk di dalam telur yang kondisinya terganggu. Larva stadium infektif bersifat geotrofik negatif yang berarti bahwa larva selalu merayap ke atas daun-daunan atau rerumputan. Larva infektif juga bersifat fototrofik pada paparan sinar rendah tetapi takut pada paparan sinar kuat, sehingga larva merayap naik pada pagi hari, sore hari, dan cuaca mendung. Migrasi terjadi lebih aktif pada keadaan panas dibandingkan dingin. Larva infektif tidak aktif masuk ke dalam tubuh hospes, tetapi tertelan bersama makanan atau minuman (Soulsby, 1982).

Berbagai solusi sangat diperlukan untuk memutus rantai kehidupan larva agar satwa liar terhindar dari meledaknya jumlah parasit di dalam tubuhnya. Mulai dari management kebersihan, serta pemberian treatment yang sesuai dengan kebutuhan satwa. So, yuk mari bantu kampanye-kan save gajah supaya anak cucu kita dapat melihat hewan-hewan purba yang tersisa.

Ditengah Hutan, 16 September 2019

19.59 WIB

Vindo Rossy Pertiwi

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, J., Upadhayay, R., Sudimack, D., Nair, S., Leland, M., Williams, J.T. & Anderson, T.J.C. (2012) Trichuris sp. and Strongyloides sp. infections in a freeranging baboon colony. Journal of Parasitology 98, 205–208.

 

Baines L, MorganER, OfthileM, Evans K. 2015. Occurrence and Seasonality of Internal Parasite Infection in Elephants, Loxodonta africana, in The Okavango Delta, Botswana. International Journal for Parasitology : Parasites and Wildlife. 4 : 43-48.

 

Dorris, M., Viney, M.E. & Blaxter, M.L. (2002) Molecular phylogenetic analysis of the genus Strongyloides and related nematodes. International Journal for Parasitology 32, 1507–1517.

 

Dryden MW, Payne PA, Ridley R, Smith V. 2005. Comparison of Common Fecal Flotation Techniques for the Recovery of Parasite Eggs and Oocysts. Veterinary Therapeutics. 6 (1) : 15-28.

 

Easwaran KR, Ravindran R, Pillai KM. 2003. Parasitic Infection of Some Wild Animals at Thekkady in Kerala. Zoos’ Print Journal. 18 (2) : 1030.

 

Fowler ME dan Mikota SK. 2006. Biology, Medicine, and Surgery of Elephants. 1st ed. State Avenue, Ames, Lowa : Blackwell Publishing Professional

 

Fernando, P., Pfrender, M.E., Encalada, S.E. & Lande, R. (2000) Mitochondrial DNAvariation, phylogeography and population structure of the Asian elephant. Heredity 84, 362–372.

 

Lebarbenchon C, Poulin R, Gautheir-Clerc M, Thomas F. 2006. Parasitological Consequences of Overcrowding in Protected Areas. EcoHealth. 3 : 303-307.

 

Lynsdale CL, Santos DJFD, Hayward AD, Mar KU, Htut W, Aung HH, Soe AT, Lummaa V. 2015. A Standardised Faecal Collection Protocol for Intestinal Helminth Egg Counts in Asian Elephants, Elephas maximus.International Journal for Parasitology : Parasites and Wildlife. 4 (2015) : 307-315.

 

Zajac AM, Conboy GA. 2012. Veterinary Clinical Parasitology. 8th ed. United Kingdom: Wiley-Blackewll.

 

Zhang J, Daszak P, Huang H, Yang G, Kilpatrick AM, Zhang S. 2008. Parasite Threat to Panda Conservation. EcoHealth. 5(1) : 6-9.

Bersyukurlah, Maka Allah…

Bersyukurlah, Maka Allah…

Hari ini, saat gue mendengar sebuah alunan lagu yang membuat gue berfikir kadang apa yang kita alami hanya secuil dari masalah orang lain, tidak ada apa apanya di bandingkan dengan mereka. Namun, selama ini kita sering merasa bahwa kita adalah manusia paling sedih sedunia banyak hal yang berputar dalam otak “kenapa hidup kita tidak seperti mereka? kenapa setiap urusan mereka gampang banget ga kaya gue? kenapa begini? kenapa begitu?”

Yappp, membandingkan hidup kita dengan orang lain tanpa sebenarnya kita tahu perjuangan apa yang sudah mereka lalui selama ini, kebaikan apa yang telah mereka perbuat, serta seberapa banyak doa orang baik yang diijabah oleh Allah untuk mereka. Ini yang sering membuat kita lupa, seringnya kita menilai secara superficial saja tanpa pula kita tahu betapa terseok seoknya mereka sebelum nikmat mereka yang dimiliki saat ini.

Ada yang diusia muda sudah Allah datangkan jodohnya, ada yang diusia gemilangnya diberikan prestasi bejibun bersekolah diluar negeri tanpa uang sepeser pun, ada pula yang fresh graduate langsung diterima kerja dengan posisi yang di damba, ada yang diusia yang sangat belia sudah menjadi seorang hafidz, ada yang dengan mudahnya allah berikan seseorang kemudahan untuk bersekolah dengan beasiswa, ada pula yang sudah lengkap diberikan semuanya oleh Allah . Yapp yappp, kalau ditelaah kembali dengan mudah memang Allah memberikan jalan indah untuk seseorang tentunya dengan perjuangan yang ia lakukan sebelumnya.

Ada pula diusia mudanya masih berkutat pada urusan yang ia selesaikan, berpusing dengan berbagai masalah yang datang bertubi-tubi. Ada pula yang harus mandiri menjalani semuanya, ada pula yang dengan mudahnya Allah berikan ‘mentor’ yang baik untuk prosesnya. Ada pula yang harus diuji dengan masalah intern dari keluarga atau masalah dari ekstern seperti lingkungan yang tak berpihak pada hidupnya.

Sebagai manusia, kadang kita hanya berfokus pada satu hal. Iiih enaknya dia dan tanpa kita sadar, rasa iri menggelayuti hati melayang layang memenuhi nurani yang sebenarnya baik. Allah pernah berfirman: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. ‘Ibrahim [14] : 7). Dan disana jelaslah bahwa bersyukur dan bersabar adalah jalan terbaik yang harus kita punya saat ini. Lapangkan dada, banyak banyak meminta kepada Allah. Belajar dari pengalaman hidup orang lain pun sangat membantu kita dalam mengarungi hidup ke depan yang lebih baik lagi.

Surabaya, 18 Januari 2019

21.00 WIB

Menghargai Sebuah ‘Perjalanan’

IMG_7374.JPG

Menjalani kehidupan, tak ubahnya seperti sebuah perjalanan panjang yang sudah Allah siapkan untuk kita. Perjalanan yang merupakan skenario dari Sang Sutradara. Jika berbicara tentang perjalanan, maka aku disini ingin sedikit mencurahkan tentang ‘perjalanan’ jua. ‘Perjalanan’ untuk berhijrah.

‘Perjalanan’ seorang perempuan muslimah sangatlah berat. Dilabel dengan kata “si A sudah berhijrah” artinya adalah “Si A ga boleh bikin salah”, lantas akan dilihat dengan detail setiap gerak gerik, tingkah laku dan ucapannya. Sedikit kesalahan yang dia buat maka akan timbulah sebuah “lah bukankah dia sudah berhijrah? Kok kelakuan masih begitu” dan bla bla bla. Bahkan tak jarang kita dianggap “tua” hanya karena apa yang kita kenakan “Pakai gamis kaya ibu-ibu aja. Jangan pakai rok terus dong biar ga monoton. Kamu abis ikut itu kok jadi begitu” dan masih banyak lagi cercaan yang harus kita terima. Setiap kita pasti tahu, menutup aurat adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap muslimah bukan? Dari ayat ini diterangkan bahwa

يَٰٓـأَيـُّهَا ٱلنَّبِيُّ قـُل لـِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنـَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡـمُؤۡمِنِينَ يُدْنِينَ عَلـَيۡهـِنَّ مِن جَلَٰبـِيبـِهـِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنـَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فـَلـَا يُؤذيۡنَ ۗ وَكـَانَ اللهُ غـَفـُورًا رَّحِيمًا (الأحزاب : ٥٩

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Ahzab ayat: 59)

Banyak orang yang harus berjuang keras demi menutup auratnya. Bahkan ia menganggap bukan hanya menutup kepala saja, namun menutupi seluruh badan dan yang tampak hanya wajah dan telapak tangan dengan berbagai usaha yang ia lakukan, mengulurkan jilbabnya sampai menutupi dada bahkan sampai menutupi lengan dan tangan mereka, dengan gamis panjang dilapisi dengan manset supaya lebih ‘safe’ lagi aurat mereka, masih melindungi dengan kaos kaki yang ia kenakan, menjaga akhlak dan sikap mereka untuk menghindari ikhtilath. Istiqomah itu tidaklah mudah, jika kita belum bisa seperti itu minimal hargai mereka dengan keputusannya. Jangan malah dikata yang tak sepantasnya. Terlebih jika kita adalah saudara.

Menghargai sebuah ‘perjalanan’ banyak hal yang bisa kita lakukan, dengan tidak menjatuhkan, dengan tidak mengasingkan, dengan selalu memberikan semangat dari keputusan yang telah dibuat, serta doakan supaya selalu istiqomah berada di jalan Allah.

Surabaya, 26 September 2018

23.37 WIB

JENIS-JENIS PENELITIAN

Ikadam23's Blog

Penelitian dapat digolongkan atau dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan:

    1. Penelitian Ditinjau dari Tujuan

      • Penelitian Eksploratif

Seorang peneliti ingin menggali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.

        • Menjawab hipotesis

          Mencari korelasi

          Inovasi (menemukansesuatu yang baru)

Contoh: Di suatu desa secara berturut-turut terjadi kematian penduduk terutama anak-anak dibawah umur 5 tahun. Kejadian tersebut kelihatan misterius sehingga menarik perhatian para dokter. Maka dibentuklah sebuah tim untuk mengadakan penelitian dengan maksud untuk menemukan sebab-musabab terjadinya musibah tersebut.

  • Penelitian Development atau Penelitian Pengembangan

View original post 1,643 more words

DISTEMPER, 90% Kucing Akan Mati

Izin reblog sis..

stroberiecat

Berikut sebagian kecil pengetahuan tentang Distemper Kucing dan pengalamanku dalam menangani kasus tersebut.

Distemper pada Kucing

Distemper Kucing atau Feline Panleukopenia Virus (FPV) disebabkan oleh virus parvo. Virus ini menghancurkan sel-sel dalam sumsum tulang, jaringan limfoid, bahkan otak dan retina. Distemper adalah penyakit serius yang mematikan pada kucing. Diatas 90% kucing akan meninggal apabila tidak ditangani dengan benar. Kucing dewasa yang diberi perlakuan tepat, ada kemungkinan akan selamat. Sedangkan untuk anak kucing, kesempatan untuk bertahan dari virus ini sangat kecil. Sebagian kucing sudah memiliki FPV ini, namun karena antibodi si kucing, virus ‘tertidur’. Virus dapat aktif kembali saat daya tahan tubuh kucing menurun karena cuaca sedang dingin misalnya. Indukan yang memiliki virus Distemper dalam tubuhnya, dapat dipastikan anak mereka terkena FPV, dan dapat dilihat efeknya setelah beberapa bulan saat efek kolostrum dari ibunya telah menurun.

Virus Parvo dapat bertahan di udara bebas hingga jangka waktu 1 tahun. Dan menyebar…

View original post 1,033 more words

Jangan Lupakan Etika Penerus Bangsa

Saat saya memutuskan untuk menulis tulisan ini, apa yang saya tulis sedang terjadi di hadapan saya. Sungguh luar biasa ya pemuda-pemuda kita saat ini, sungguh hebat dan sudah merasa paling hebat diantara yang lainnya. Rasa penghormatan terhadap orang yang lebih tua, nampaknya kian melemah, kian meluntur, bahkan jika dibiarkan mungkin akan sirna. Apa yang saya lihat di sebelah dari sekelompok pemuda yang penampilan, dan bahasannya bisa dibilang anak hits sekarang ada seorang ibu dan bapak yang sudah lanjut usia disana beliau nampak kebingungan dan mendekatlah pada saya dan berkata,”permisi mbak, apakah tempat ini kosong?” Dan saya menjawab,”oh iya kosong bu silahkan duduk di sini.” Dan akhirnya penuh dengan obrolan ngalor ngidul dan akhirnya sampailah pada sebuah obrolan yang beliau menceritakan ketiga anaknya. Dan you know what?? Ketiga anak beliau adalah dokter dan juga dosen. Mungkin apa yang dilihat secara penampilan mereka tidak sama sekali menunjukan keakuan. Disana justru beliau mengajarkan banyak hal, menceritakan segala pengalaman beliau selama ini dan susah payahnya berjuang untuk anak-anak beliau yang ternyata menghasilkan buah manis, yaah lebih dari maniss ini. Beliau mengajarkan sebuah arti kesederhanaan tanpa sebuah gadget keren yang tiap saat muncul tayangan iklat di tivi yang ternyata adalah hasil pemberian sponsor terbesar yaitu sang orang tua. Beliau ga pernah memberikan pakaian dengan harga melangit, namun beliau memberikan pengajaran hidup luar biasa yang berakhir indah di masa tuanya. Dan menghasilkan seorang putra putri yang tak mengemis pada ibu bapaknya. Pliiss, saya mohon untuk kita yang katanya generasi penerus bangsa, belajar etika di tempat umum, belajar berbicara yang baik dan tak memunculkan sikap egomu, bersikap ramahlah pada semua orang terlebih orang yang lebih tua. Karena kita ga akan pernah tahu, siapa orang disebelah kita yang mungkin mereka bahkan lebih hebat dari kita.

Tangerang, 19 Juli 2016

Vindo Rossy Pertiwi

 

 

Merindumu adalah Candu

Rangkaian frasa tak sanggup menggambarkan cerita hatiku. Ribuan detik tak mampu menyelesaikan sebuah rindu. Rinduku padamu adalah candu. Yang menerus membuncah. Tiada akhir. Semakin kuhela nafas ini, ‘puzzle’mu menerus tergambar jelas dari susunannya. Menyisakan luka ini hingga kini. Lukaku yang tak mampu sembuh. Ya, hingga kini mata kita tak pernah bertatap, raga tiada berjumpa. Rinduku terus menyusup kerelung jiwa, menciptakan buliran air mata. Jatuh. Jatuh tanpa sambutmu.

Betapapun waktu yang kubutuh untuk mencintamu, seakan sirna bak hempasan butir-butir rindu. Berapa ratus lagi luka ini kusambut, terus kau rajut dalam lubuk hatiku. Menciptakan keropeng-keropeng candu, keropeng rindu yang semakin mencuat, mencuat ke permukaan hati. Terlintas dalam kalbu, tak sanggup ku meninggalkan, tak sanggup  ku menjauh darimu. Kunikmati setiap hembusan nafas, setiap helaan nafas untuk selalu merindumu. Selalu merindumu, kini hingga nanti. Jika kau mulai merindu, kembalilah padaku yang selalu menjadi ‘rumah’mu. Sampai kapanpun..

Lampung Timur, 23 Juni 2015

PhotoGrid_1466400458440

Bagaikan Gajah yang Terlepas dari Kawanannya

Ketika sunyi malam ini semakin terasa, menyibakkan kembali kisah-kisah lama kita. Indah, manis, mengenang. Can’t forget it! Tak mungkin rasanya aku melupakan ini, sangat tak mungkin. Kisah ini terlalu indah untuk kujabarkan panjang lebar, terlalu indah untuk terlupakan.

Pernahkah terpikir dibenakmu kini? Aku bak gajah yang terlepas dari kawanannya. Terombang ambing lelah yang tak tahu arah kemana harus ku awali lagi kisah indah ini? Tak tahu apa yang harus kulakukan. Mencari dan terus mencari apa salah yang pernah ku perbuat. Dosa apa yang kulakukan sehingga membuatmu berubah?

Deraian air mataku yang kuteteskan untukmu disela-sela sujudku mungkin tak kau dengar. Ahh sudah, tak perlu mungkin kau anggap hal ini lagi. Aku, yang mungkin kini bukan apa-apa bagimu, saatnya kuhaturkan terima kasih atas semua empati dan kasih sayangmu. Sepertinya ada percikan lukamu yang menginginkanku untuk terus menjauh darimu. Tapi tenanglah, semua pengorbananmu untukku secupil pun tak boleh kulupa, tak boleh terseok begitu saja. Tentunya ini selalu kujadikan pelajaran. Aku tak mencintaimu berlebih, tak menyayangimu pun berlebih. Sebenarnya sedari awal hal ini yang ku takutkan. Saling menjauh, tanpa tahu apa penyebabnya. Tapi aku selalu merasa aku yang salah di sudut ini. Entahlah, mungkin terlalu memuak-kan semua hal yang pernah kubagi denganmu. Terlalu kudramatisir, katanya. Sekali lagi, cuplikan kisah ini tak akan pernah kulupa sampai kapanpun. Aku mencintaimu sebagai saudaraku yang seharusnya kucintai, sesama umat yang paham apa itu “mencintai umatNya karena Allah”.

Dengan deraian air mata semuanya kutulis dari lubuk hatiku, sekali lagi ini bukan kisah antara 2 makhluk berbeda, tapi sebuah kisah yang lebih hebat dari itu, yang menghidupkan harimu, yang menerangi harimu, dulu. Dan hanya satu pintaku, biar Tuhan yang membantu menyelsaikan semua ini.

Soerabaja, 11 Juni 2016

Vindo Rossy Pertiwi

Lupa Fungsi Perpustakaan

Perpustakaan, pasti sudah nggak asing di telinga dari setiap kita. Dan tentunya amat sangat paham fungsi dari perpustakaan itu sendiri. Yap, untuk membaca, belajar, dst. Well, kenapa saya akhirnya memutuskan untuk membuat tulisan ini? Karena sepertinya sudah banyak orang yang lupa akan fungsi perpustakaan.

Oke, dimulai dari cerita hari ini. Ketika diperpus ramai bak pasar ayam penuh diskonan. Beuuh, super sekali melihat banyak orang asyik-asyika cerita sono sini, ketawa ketiwi, banter-banteran dengerin musik, dan satu lagi nemuin orang ngobrol yang volumenya itu pakai volume maksimal. Subhanallah, mungkin mereka lupa kalau orang disebelahnya membutuhkan tempat sunyi senyap bak kuburan untuk berkonsentrasi mengerjakan suatu hal, atau dengan timbunan tugas segambreng tapi ternyata dengan pindah diperpustakaan justru emosi kian memuncak. Astaghfirullah..

Flashback, beberapa hari yang lalu..

Suasana perpus dipagi hari memang tiada duanya. Sepi, tenang, segar, tanpa suara-suara dari orang yang ‘lupa’. Semua ide bahkan bisa tercurah, lepas dan bebas. Ini suasana perpustakaan yang dirindu dunia.

Tentunya kalian pernah dong nonton film luar negeri dengan latarnya adalah perpustakaan. Jika terdengar sedikit saja suara maka sang petugas akan menegurnya dan tentunya orang yang ditegur akan sangat malu. Ini pembelajaran untuk kita. Belajar gimana menahan buat mulut tidak berbicara dalam waktu 2-3 jam saja, belajar untuk menghargai sekitar dengan sejibun tugasnya dan keaneka ragaman masalah yang mereka punya.

Think smart lah yaa teman-teman, kadang yang ngakunya terpelajar itu kadang lupa untuk menutup mulutnya, lupa untuk menempatkan diri, dan lupa jika setiap tempat ada aturannya. Jangan menjadikan orang lain ‘mangkel’, sebel hanya karena kita lupa untuk menempatkan diri.